Aduh gawat! Saya baru saja tahu dari seorang kawan yang sudah menikah, bahwa tidak mudah untuk kami, para kaum pria untuk dapat membawa pergi anak gadis orang (baca:nikah) sini.
"
tiga puluh juta itu biasa win, belum termasuk biaya mas kawin, belum termasuk biaya JPS (jaring pengaman sosial) untuk 3 bulan, itu uang hanya untuk pesta-nya aja." Gitu lah kira-kira perkataan dia.
Seperti teringat kata salah satu guru PMP pas SD dulu (yang kemudian diganti menjadi PPKN pas jaman SMA, PMP-nya yang diganti, bukan gurunya...) dimana langit di junjung, disitu bumi dipijak. Memang adat orang sini "mengharuskan" sang mempelai pria membayarkan sejumlah uang, untuk biaya pernikahan dan segala macemnya. Uang sejumlah itu banyak loh, dan harus terhambur karena sebuah pesta yang belum tentu hanya akan ada dalam seumur hidup kita.
Gambaran tentang sebuah pernikahan koboi-koboian yang ada diotak saya langsung terancam punah. Impian tentang saat dimana saya dan siapapun-perempuan-yang tidak-cukup-beruntung-itu berjalan dan mengenakan gaun pengantin kami, celana jeans dan kaos oblong yang bertuliskan nama-nama band keren seperti
the used dan
Taking back sunday. Acara tumpengan nasi kuning yang dihadiri ama orang se-RT aja, didoakan oleh para anak-anak yatim, memotong kambing dan sebuah panggung hiburan FULL BAND, tempat teman-teman kami berteriak, scream dan para tamu yang ber-
moshpit ria. Apakah itu harus tergantikan dengan sebuah acara resepsi pernikahan dengan gambaran gamblang tamu berpakaian batik yang mungkin tidak setengah dari para undangan itu kami kenal.
Ah, ngapain pusing sih... calon aja juga masih belum jelas